KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami
panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan bimbingan-Nya,
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik. Salawat dan
salam senantiasa tercurah kepada nabi kita Muhammad SAW, semoga beliau,
keluarga, para sahabat serta para pengikutnya mendapat tempat yang layak disisi
Allah SWT.
Makalah ini disusun sebagai tugas
dari Mata Kuliah SISTEM SOSIAL INDONESIA. Dengan adanya makalah ini, kami
sebagai penyusun mengharapkan semoga apa yang dibahas dalam makalah ini dapat
membantu para pembaca dalam memahami Sistem Sosial Indonesia.
Akhir kata, kami sebagai penulis mengucapkan
banyak terima kasih kepada pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas
makalah ini. Kami juga menyadari bahwa dalam makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran untuk kesempurnaan
makalah ini sehingga dalam pembuatan makalah selanjutnya dapat menjadi lebih
baik.
Lasusua, 23 Oktober 2013
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sistem sosial adalah
proses belajar mengenali, menganalisis dan mempertimbangkan eksistensi dan
perilaku organisasi dan institusi sosial kemasyarakatan dalam berbagai ranah
kehidupan manusia. Peran manusia di sini lebih dilihat sebagai makhluk sosial
dan bagian dari kelompok kepentingan, bukan sebagai individu. Ketika kita
mengamati suatu fenomena sosial, maka sebenarnya kita sedang mencerna realitas
kehidupan yang membawakan kondisi sistem masyarakat tertentu yang sedang
bekerja, berusaha tetap langgeng, dan seringkali berbenturan dengan sistem-sistem
lainnya. Sistem ini mencirikan karakteristik sifat, tata nilai, ukuran,
kualitas dan kedudukan relasional di dalam dan antar sistem. Oleh karenanya,
fenomena sosial pada hakikatnya adalah proses dialog, transaksi dan negosiasi
sejumlah sistem sosial pada konteks waktu dan tempat tertentu.
Pertempuran yang
terjadi dimasa pra-kemerdekaan ataupun pasca-kemerdekaan, telah memberi
gambaran pada kita apa itu konflik. Peristiwa tersebut merupakan serentetan
konflik yang pernah dialami oleh bangsa Indonesia, sehingga menjadikan 17
Agustus 1945 merupakan lembaran sejarah kehidupan bangsa Indonesia. Sebelum dan
sesudah itu, bangsa indonesia mengalami pertentangan-pertentangan yang muncul
justru dari para tokoh elit sosial-poltik bangsa. Sebelumnya itu, mereka saling
membantu untuk mewujudkan Indonesia merdeka.Mereka tak mengedepankan hasrat ego
mereka masing-masing. Namun setelah itu muncullah peristiwa pemberontakan, yang
diawali dengan pemberontakan PKI tahun 1948, DI/TII , PRRI-Permesta, G30
S/PKI,dll. Yang berusaha meruntuhkan kesatuan NKRI.
Keadaan itu
memiliki makna bahwa “Bhineka Tunggal Ika“ sesungguhnya hanya teori semata,
belum diterapkan secara nyata oleh bangsa ini. Perkataan itu merupakan
cita-cita yang masih perlu diwujudkan bagi segenap bangsa kita ini. Akan
tetapi, konflik-konflik sosial didalam masyarakat senantiasa memiliki kedudukan
dan pola masing-masing. Dikarenakan sumber yang menjadi penyebabnya pun
memiliki jenis yang tidak sama. Hanya melalui pemahaman yang mendalam mengenai
sumber penyebabnya, maka konflik sosial internal bangsa akan dapat kita
hindari. Secara psikologis kita memiliki kecenderungan untuk menekan
kenyataan-kenyataan tersebut ke dalam dunia bawah sadar kita, bukan saja kita
mengira bahwa dengan demikian kita akan dapat terhindar dari konflik yang lebih
tajam, namun sesungguhnya kita tidak menyukai kenyataan tersebut. Konflik yang
terjadi diantara sesama kita adalah sesuatu yang menodai jiwa dan semangat
gotong-royong yang kita muliakan, sesuatu yang menodai jiwa dan semangat
Bhineka Tunggal Ika yang kita junjung tinggi.
Yang
tidak pernah kita sadari adalah, mekanisme psikologis seperti itu akan membawa
kita berlarut-larut kedalam konflik yang berkepanjangan, dan sulit untuk
dipecahkan. Sehingga kita akan kehilangan kepekaan kita terhadap
perkembangan-perkembangan yang akan dapat memecahkan konflik. Sementara kita
terpesona dengan anggapan bahwa konflik yang terjadi akan dapat kita atasi
dengan gotong-royong dan semangat Bhineka Tunggal Ika, kita akan terkejut
dengan kenyataan bahwa konflik yang terjadi secara tiba-tiba menjadi dahsyat.
Dengan menyadari akan adanya konflik-konflik sosial yang bersifat laten di
dalam masyarakat kita, memungkinkan kita untuk mencari faktor-faktor
penyebabnya.
Mata kuliah ini
memberikan pemahaman dasar dan umum tentang bagaimana mengurai ke dalam
konsep-konsep dasar bentuk dan isi dari kemajemukan sistem sosial budaya
Indonesia. Materi dan ruang lingkup perkuliahan akan diawali dengan me-review
kembali konsep sistem, konsep sistem sosial, konsep sistem budaya, dilanjutkan
dengan realitas struktur majemuk masyarakat Indonesia, aspek historis yang
mempengaruhi terbentuknya sistem sosial dan sistem budaya Indonesia, aneka
nilai orientasi masyarakat Indonesia dan implikasinya pada kehidupan sosial
budaya ekonomi dan politik, dan pendekatan teoritis dalam memahami sistem
sosial serta masalah integrasi Nasional.
B.
Rumusan Masalah
a. Bagaimana
sistem sosial di Indonesia ?
b. Apa
implikasinya pada kehidupan sosial, budaya, ekonomi dan politik dengan adanya
aspek kemajemukan?
C.
Tujuan
Dengan
mengikuti kegiatan perkuliahan Sistem Sosial Indonesia, maka diharapkan
mahasiswa mampu menjelaskan mengenai sistem sosial di Indonesia serta mampu
memahami implikasinya pada kehidupan sosial, budaya, ekonomi dan politik dengan
adanya aspek kemajemukan
.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENDEKATAN TEORITIS
Sudut pendekatan
yang perlu mendapatkan perhatian pertama kali adalah sebuah pendekatan yang
sangat berpengaruh dikalangan para ahli sosiologi selama beberapa puluh tahun
terakhir ini. Pendekatan tersebut menganggap bahwa masyarakat , sesungguhnya
terintegrasi atas dasar kesepakatan antar anggota mereka. Ia memandang masyarakat
sebagai suatu sistem yang secara fungsional terintegrasi ke dalam suatu bentuk
equilibrium. Oleh karena sifatnya, yang demikian, maka aliran pemikiran
tersebut disebut sebagai Integration approach, order approach, equilibrium
approach, atau dengan lebih populer disebut sebagai structural-functional
approach. (Selanjutnya disebut pendekatan fungsional struktural atau
fungsionalisme-struktural). Teori-teori yang mendasarkan diri pada sudut pendekatan
tersebut, biasa dikenal pula sebagai integration theories, order theoris,
equilibrium theories, atau lebih dikenal sebagai teori-teori fungsional
struktural.
Pendekatan
fungsionalisme struktural sebagaimana yang telah dikembangkan oleh Parsons dan
para pengikutnya, dapat kita kaji melalui sejumlah anggapan dasar mereka
sebagai berikut :
1. Masyarakat
haruslah dilihat sebagai suatu sistem daripada bagian-bagian yang saling
berhubungan satu sama lain.
2. Dengan
demikian hubungan pengaruh mempengaruhi di antara bagian-bagian tersebut adalah
bersifat ganda dan timbal balik.
3. Sekalipun
integrasi sosial tidak pernah dapat dicapai dengan sempurna, namun secara
fundamental sistem sosial selalu cenderung bergerak ke arah equilibrium yang
bersifat dinamis.
4. Sekalipun
disfungsi, ketegangan-ketegangan, dan penyimpangan-penyimpangan senantiasa
terjadi juga, akan tetapi di dalam jangka yang panjang keadaan tersebut akan
teratasi dengan sendirinya pada akhirnya, melalui penyesuaian-penyesusaian dan
proses institusionalisasi.
5. Perubahan-perubahan
di dalam sistem sosial pada umumnya terjadi secara gradual, melalui
penyesuaian-penyesuaian, dan tidak secara revolusioner.
6. Pada
dasarnya, perubahan-perubahan sosial timbul atau terjadi melalui tiga macam
kemungkinan, yaitu penyesuaian yang dilakukan oleh sistem sosial tersebut,
terhadap perubahan-perubahan yang datang dari luar (extra systemic change),
pertumbuhan melalui proses diferensiasi struktural dan fungsional, serta
penemuan-penemuan baru oleh anggota masyarakat.
7.