Kamis, 05 Juni 2014

MAKALAH SISTEM SOSIAL

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan bimbingan-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik. Salawat dan salam senantiasa tercurah kepada nabi kita Muhammad SAW, semoga beliau, keluarga, para sahabat serta para pengikutnya mendapat tempat yang layak disisi Allah SWT.
Makalah ini disusun sebagai tugas dari Mata Kuliah SISTEM SOSIAL INDONESIA. Dengan adanya makalah ini, kami sebagai penyusun mengharapkan semoga apa yang dibahas dalam makalah ini dapat membantu para pembaca dalam memahami Sistem Sosial Indonesia.
Akhir kata, kami sebagai penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas makalah ini. Kami juga menyadari bahwa dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran untuk kesempurnaan makalah ini sehingga dalam pembuatan makalah selanjutnya dapat menjadi lebih baik.

Lasusua, 23 Oktober 2013

Penulis


BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Sistem sosial adalah proses belajar mengenali, menganalisis dan mempertimbangkan eksistensi dan perilaku organisasi dan institusi sosial kemasyarakatan dalam berbagai ranah kehidupan manusia. Peran manusia di sini lebih dilihat sebagai makhluk sosial dan bagian dari kelompok kepentingan, bukan sebagai individu. Ketika kita mengamati suatu fenomena sosial, maka sebenarnya kita sedang mencerna realitas kehidupan yang membawakan kondisi sistem masyarakat tertentu yang sedang bekerja, berusaha tetap langgeng, dan seringkali berbenturan dengan sistem-sistem lainnya. Sistem ini mencirikan karakteristik sifat, tata nilai, ukuran, kualitas dan kedudukan relasional di dalam dan antar sistem. Oleh karenanya, fenomena sosial pada hakikatnya adalah proses dialog, transaksi dan negosiasi sejumlah sistem sosial pada konteks waktu dan tempat tertentu.
Pertempuran yang terjadi dimasa pra-kemerdekaan ataupun pasca-kemerdekaan, telah memberi gambaran pada kita apa itu konflik. Peristiwa tersebut merupakan serentetan konflik yang pernah dialami oleh bangsa Indonesia, sehingga menjadikan 17 Agustus 1945 merupakan lembaran sejarah kehidupan bangsa Indonesia. Sebelum dan sesudah itu, bangsa indonesia mengalami pertentangan-pertentangan yang muncul justru dari para tokoh elit sosial-poltik bangsa. Sebelumnya itu, mereka saling membantu untuk mewujudkan Indonesia merdeka.Mereka tak mengedepankan hasrat ego mereka masing-masing. Namun setelah itu muncullah peristiwa pemberontakan, yang diawali dengan pemberontakan PKI tahun 1948, DI/TII , PRRI-Permesta, G30 S/PKI,dll. Yang berusaha meruntuhkan kesatuan NKRI.
Keadaan itu memiliki makna bahwa “Bhineka Tunggal Ika“ sesungguhnya hanya teori semata, belum diterapkan secara nyata oleh bangsa ini. Perkataan itu merupakan cita-cita yang masih perlu diwujudkan bagi segenap bangsa kita ini. Akan tetapi, konflik-konflik sosial didalam masyarakat senantiasa memiliki kedudukan dan pola masing-masing. Dikarenakan sumber yang menjadi penyebabnya pun memiliki jenis yang tidak sama. Hanya melalui pemahaman yang mendalam mengenai sumber penyebabnya, maka konflik sosial internal bangsa akan dapat kita hindari. Secara psikologis kita memiliki kecenderungan untuk menekan kenyataan-kenyataan tersebut ke dalam dunia bawah sadar kita, bukan saja kita mengira bahwa dengan demikian kita akan dapat terhindar dari konflik yang lebih tajam, namun sesungguhnya kita tidak menyukai kenyataan tersebut. Konflik yang terjadi diantara sesama kita adalah sesuatu yang menodai jiwa dan semangat gotong-royong yang kita muliakan, sesuatu yang menodai jiwa dan semangat Bhineka Tunggal Ika yang kita junjung tinggi.
Yang tidak pernah kita sadari adalah, mekanisme psikologis seperti itu akan membawa kita berlarut-larut kedalam konflik yang berkepanjangan, dan sulit untuk dipecahkan. Sehingga kita akan kehilangan kepekaan kita terhadap perkembangan-perkembangan yang akan dapat memecahkan konflik. Sementara kita terpesona dengan anggapan bahwa konflik yang terjadi akan dapat kita atasi dengan gotong-royong dan semangat Bhineka Tunggal Ika, kita akan terkejut dengan kenyataan bahwa konflik yang terjadi secara tiba-tiba menjadi dahsyat. Dengan menyadari akan adanya konflik-konflik sosial yang bersifat laten di dalam masyarakat kita, memungkinkan kita untuk mencari faktor-faktor penyebabnya.
Mata kuliah ini memberikan pemahaman dasar dan umum tentang bagaimana mengurai ke dalam konsep-konsep dasar bentuk dan isi dari kemajemukan sistem sosial budaya Indonesia. Materi dan ruang lingkup perkuliahan akan diawali dengan me-review kembali konsep sistem, konsep sistem sosial, konsep sistem budaya, dilanjutkan dengan realitas struktur majemuk masyarakat Indonesia, aspek historis yang mempengaruhi terbentuknya sistem sosial dan sistem budaya Indonesia, aneka nilai orientasi masyarakat Indonesia dan implikasinya pada kehidupan sosial budaya ekonomi dan politik, dan pendekatan teoritis dalam memahami sistem sosial serta masalah integrasi Nasional.

B.            Rumusan Masalah
a.   Bagaimana sistem sosial di Indonesia ?
b.  Apa implikasinya pada kehidupan sosial, budaya, ekonomi dan politik dengan adanya aspek kemajemukan?

C.            Tujuan
Dengan mengikuti kegiatan perkuliahan Sistem Sosial Indonesia, maka diharapkan mahasiswa mampu menjelaskan mengenai sistem sosial di Indonesia serta mampu memahami implikasinya pada kehidupan sosial, budaya, ekonomi dan politik dengan adanya aspek kemajemukan

.
BAB II
PEMBAHASAN

A.           PENDEKATAN TEORITIS
Sudut pendekatan yang perlu mendapatkan perhatian pertama kali adalah sebuah pendekatan yang sangat berpengaruh dikalangan para ahli sosiologi selama beberapa puluh tahun terakhir ini. Pendekatan tersebut menganggap bahwa masyarakat , sesungguhnya terintegrasi atas dasar kesepakatan antar anggota mereka. Ia memandang masyarakat sebagai suatu sistem yang secara fungsional terintegrasi ke dalam suatu bentuk equilibrium. Oleh karena sifatnya, yang demikian, maka aliran pemikiran tersebut disebut sebagai Integration approach, order approach, equilibrium approach, atau dengan lebih populer disebut sebagai structural-functional approach. (Selanjutnya disebut pendekatan fungsional struktural atau fungsionalisme-struktural). Teori-teori yang mendasarkan diri pada sudut pendekatan tersebut, biasa dikenal pula sebagai integration theories, order theoris, equilibrium theories, atau lebih dikenal sebagai teori-teori fungsional struktural.
Pendekatan fungsionalisme struktural sebagaimana yang telah dikembangkan oleh Parsons dan para pengikutnya, dapat kita kaji melalui sejumlah anggapan dasar mereka sebagai berikut :
1.   Masyarakat haruslah dilihat sebagai suatu sistem daripada bagian-bagian yang saling berhubungan satu sama lain.
2.   Dengan demikian hubungan pengaruh mempengaruhi di antara bagian-bagian tersebut adalah bersifat ganda dan timbal balik.
3.    Sekalipun integrasi sosial tidak pernah dapat dicapai dengan sempurna, namun secara fundamental sistem sosial selalu cenderung bergerak ke arah equilibrium yang bersifat dinamis.
4.   Sekalipun disfungsi, ketegangan-ketegangan, dan penyimpangan-penyimpangan senantiasa terjadi juga, akan tetapi di dalam jangka yang panjang keadaan tersebut akan teratasi dengan sendirinya pada akhirnya, melalui penyesuaian-penyesusaian dan proses institusionalisasi.
5.     Perubahan-perubahan di dalam sistem sosial pada umumnya terjadi secara gradual, melalui penyesuaian-penyesuaian, dan tidak secara revolusioner.
6.      Pada dasarnya, perubahan-perubahan sosial timbul atau terjadi melalui tiga macam kemungkinan, yaitu penyesuaian yang dilakukan oleh sistem sosial tersebut, terhadap perubahan-perubahan yang datang dari luar (extra systemic change), pertumbuhan melalui proses diferensiasi struktural dan fungsional, serta penemuan-penemuan baru oleh anggota masyarakat.
7.